MENINGKATNYA HIV / AIDS TERHADAP PERILAKU SEKS PADA KOMUNITAS LGBT



MENINGKATNYA HIV/AIDS
TERHADAP PERILAKU SEKS PADA KOMUNITAS LGBT


Oleh : FITRI LESTARI ( NIM 170511011 )
Dosen pembimbing : FAHRUDDIN KURDI, S.Kep.Ns,M.Kep            
 


Tren perkembangan kasus HIV/AIDS di Indonesia saat ini sudah mulai meluas ke beberapa kelompok masyarakat. Kelompok-kelompok ini disebut kelompok beresiko tertular HIV/AIDS. Pada awalnya HIV/AIDS hanya menyerang kelompok yang terlibat prostitusi tetapi sekarang sudah menyebar bahkan sampai kepada kelompok ibu rumah tangga. Hal ini terjadi karena tingginya mobilitas LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender ) sebagai pelaku utama dalam mengambil peran terhadap penularan HIV/AIDS. Di Indonesia sendiri , maraknya LGBT yang menuntut haknya diluar negeri untuk diizinkan menikah antar mereka berakibat kalangan LGBT di Indonesia makin marak dan bertambah. Tidak hanya terbatas pada laki-laki pembeli dan penikmat seks namun sudah merambah pada fenomena kaum homoseksual – gay ( LGBT ). Keberadaan komunitas LGBT yang belum trekspos di  media dan masyarakat ternyata ikut memberikan kontribusi terhadap perkembangan kasus HIV/AIDS. Kalangan ini memiliki ciri yang tertutup, berkomunikasi dengan tanda-tanda khusus yang hanya diketahui dan dimengerti kalangan mereka sendiri. Cara yang paling banyak menularkan HIV/AIDS dari komunitas LGBT adalah melalui aktivitas seksual. Minimnya pengetahuan komunitas LGBT mengenai seks yang aman dan sulitnya kontrol pemerintah atas aktivitas komunitas LGBT menjadi sebab mudahnya HIV/AIDS ini menyerang komunitas LGBT. Dan sulitnya para aktivis HIV/AIDS untuk dapat masuk ke kalangan mereka , sehingga bila ada yang mengidap HIV/AIDS akan sulit dideteksi dari awal agar diupayakan pencegahannya. Oleh karena itu perlunya penanaman pemahaman mengenai seks yang aman dari HIV/AIDS menjadi tanggung jawab bersama dari seluruh elemen baik masyarakat, LSM hingga pemerintah. Jadi dapat disimpulkan bahwa perilaku seksual yang dilakukan komunitas LGBT menjadi salah satu faktor yang memberikan pengaruh dalam penularan HIV/AIDS.

Hasil penelitian ( Kurdi, 2017 ) menunjukkan bahwa Pekerja Seks Komersial mengakui bahwa mereka paham bahwa pemakaian kondom dapat mencegah penularan, tetapi ketika beraktivitas seksual kondom tidak selalu mereka gunakan. Kekerasan fisik dan psikologis kadang mereka dapatkan. Bargaining power mereka masih lemah dalam negosiasi pemakaian kondom dengan pelanggannya.
HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Karena bersifat retrovirus, HIV bisa berkembang biak dan menggandakan diri dalam sel tubuh manusia yang mengidapnya. Virus ini sudah dikenali sejak tahun 1950-an dan hingga saat ini belum ada obat yang mampu menghentikan infeksi virus ini. Pengobatan yang diberikan pada pasien hanya bisa diusahakan untuk meningkatkan kualitas hidup dan meredakan gejala-gejala HIV.
Tak jarang virus ini dihubungkan dengan penyakit menular seksual karena penyebarannya yang serupa. HIV dan penyakit menular seksual sama-sama bisa ditularkan lewat hubungan seks tanpa alat kontrasepsi  atau dengan pasangan yang bergonta-ganti. Ini berarti baik pasangan gay maupun heteroseksual (beda jenis) sama-sama memiliki risiko terserang HIV.

Alasan pasangan gay berisiko HIV
Ada beberapa alasan yang menyebabkan tingginya risiko HIV pada hubungan seks gay. Alasan-alasan tersebut sangat beragam dan rumit, mulai dari faktor-faktor biologis, gaya hidup, dan sosial. Itulah mengapa pencegahan terhadap kasus HIV pada pasangan gay masih sulit untuk digalakkan. 

Risiko penularan HIV lewat seks anal
Seks anal menjadi pilihan yang umum bagi pasangan gay, meskipun banyak juga pasangan beda jenis yang mempraktikkan seks anal. Sebuah penelitian yang dimuat dalam International Journal of Epidemiology mengungkapkan bahwa tingkat risiko penularan HIV lewat seks anal lebih besar 18% dari penetrasi vagina. Pasalnya, jaringan dan lubrikan alamiah pada anus dan vagina sangat berbeda. Vagina memiliki banyak lapisan yang bisa menahan infeksi virus, sementara anus hanya memiliki satu lapisan tipis saja. Selain itu, anus juga tidak memproduksi lubrikan alami seperti vagina sehingga kemungkinan terjadinya luka atau lecet ketika penetrasi anal dilakukan pun lebih tinggi. Luka inilah yang bisa menyebarkan infeksi HIV.
Infeksi HIV juga bisa terjadi jika ada kontak dengan cairan rektal pada anus. Cairan rektal sangat kaya akan sel imun, sehingga virus HIV mudah melakukan replikasi atau penggandaan diri. Cairan rektal pun menjadi sarang bagi HIV. Maka, jika pasangan yang melakukan penetrasi telah positif mengidap HIV, virus ini akan dengan cepat berpindah pada pasangannya lewat cairan rektal pada anus. Tak seperti vagina, anus tidak memiliki sistem pembersih alami sehingga pencegahan infeksi virus lebih sulit dilakukan oleh tubuh.

Seks bebas tanpa alat kontrasepsi
Biasanya kaum penyuka sesama jenis, transgender, dan biseksual (LGBT) berada dalam sebuah lingkaran pergaulan dan komunitas yang lebih sempit dari heteroseksual. Ini dikarenakan kaum LGBT belum diterima secara utuh oleh masyarakat, jadi jumlahnya pun lebih sedikit dari heteroseksual. Para anggota berbagai komunitas LGBT, terutama pada daerah tertentu, memiliki jaringan dan hubungan yang sangat erat. Akibatnya, jika seorang gay berganti-ganti pasangan seksual, biasanya dia pun akan memilih pasangan yang berasal dari komunitas yang sama. Inilah yang menyebabkan penularan HIV jadi lebih marak ditemukan pada kasus penyuka sesama jenis alias gay.
Di samping itu, masih banyak pasangan gay yang melakukan hubungan seks tanpa alat pengaman, misalnya kondom. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, seks anal lebih berisiko menularkan HIV. Tentu hal ini akan jadi semakin berbahaya jika seks anal dilakukan tanpa kondom. Penularan HIV akibat perilaku seks bebas ini sebenarnya sangat bisa dicegah dengan mempraktikkan seks yang aman dan tidak berganti-ganti pasangan. Bahkan menurut Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementrian Kesehatan, dr. Sigit Priohutomo, MPH , masalahnya bukan terletak pada dengan siapa hubungan seks dilakukan. Seharusnya tidak menjadi masalah apakah seks dilakukan dengan sesama jenis atau beda jenis karena yang penting adalah kesetiaan dan perilaku bertanggung jawab dengan cara menggunakan alat kontrasepsi.

Tidak memeriksakan diri
Karena stigma sosial yang mengecam kaum LGBT dan kasus HIV sebagai penyakit kaum gay, banyak yang merasa takut untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Padahal, beberapa hari atau minggu setelah terinfeksi HIV, pasien akan masuk tahap infeksi akut di mana virus ini dengan mudah menyebar. Sementara pada tahap infeksi akut ini biasanya gejala-gejala yang dialami disalahpahami sebagai gejala flu biasa. Dengan perawatan intensif yang diberikan tenaga kesehatan, infeksi virus ini bisa ditekan. Maka, menunda pengobatan dan perawatan akan semakin membuat kaum gay berisiko HIV.
LBGT ini tergolong sebagai masalah kejiwaan seperti yang diungkapkan oleh Menteri Kesehatan RI Nila Djuwita F Moeloek saat berkunjung ke Kota Padang, Sumatera Barat pada Februari 2016 lalu. "Dari sisi kesehatan, LGBT itu masalah kejiwaan. Beda dengan gangguan kejiwaan, kalau gangguan mereka yang tergabung di dalamnya tidak bisa berinteraksi".

Cara Mengatasi LGBT

Untuk cara menanggulangi LGBT yang paling utama dengan memperkuat hati dan ketetapan diri. Yakinlah bahwa tuhan yang mencipatkan pria dan wanita untuk saling berpasangan dan bukannya malah menyukai sesama jenis. Perkuat juga dengan doa dan ibadah kepada Tuhan.
Selain itu Anda juga bisa memperdalam wawasan tentang bahaya serta dampak LGBT, dengan mengetahui dampak serta bahaya LGBT akan membuat Anda tahu betapa berbahaya LGBT itu sendiri.
Lalu bagaimana dengan Anda yang sudah terlanjur jatuh kedalam lembah LBGT? Apakah ada cara yang efektif dalam menghilangkannya? Anda tidak perlu khawatir, karena LGBT bisa disembuhkan. Caranya adalah dengan menggabungkan cara diatas dan juga terapi LGBT.
Terapi LGBT yang kami maksud adalah Brainwave Homoseksual Therapy, yaitu sebuah terapi modern yang dirancang khusus oleh para ahli untuk mengatasi gangguan homoseksual, menghilangkan gangguan kelainan homoseks, lesbian dan biseksual. dan menjadikan hidup lebih baik dan lebih normal.
Brainwave Homoseksual Therapy bekerja dengan menggunakan media brainwave yang dipadukan dengan visualisasi diri. Stimulus positif dari brainwave atau gelombang otak akan memberikan efek menangkan, memberikan ketenangan dan kenyamanan dalam diri Anda serta memudahkan Anda memasuki pikiran bawah sadar Anda untuk menghilangkan kebiasaan buruk dan gangguan homoseks dari diri Anda. Sementara visualisasi yang Anda lakukan saat menggunakan terapi ini akan menamkan kebiasaan positif dalam diri Anda, menjadikan Anda pribadi yang lebih baik yang memiliki aktivitas dan kehidupan seksual yang normal.
Terapi ini telah melewati proses penelitian ahli selama bertahun-tahun sebelum bisa digunakan dan dipasarkan ke publik. Terapi ini juga telah dibuktikan keefektifannya oleh banyak pihak termasuk para ahli. 

Menurut Jurnal : FENOMENA PERILAKU PENYIMPANGAN SEKSUAL OLEH LESBIAN, GAY, BISEKSUAL DAN TRANSGENDER (LGBT) DI KOTA PEKANBARU
Perilaku penyimpangan seksual yang muncul di kalangan masyarakat adalah salah satu dari sekian banyak masalah seksual yang sedang marak saat ini yang dikenal dengan istilah Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Konsekuensi logis dari perilaku penyimpangan seksual adalah munculnya berbagai penyakit kelamin (Veneral Diseases/VD), atau penyakit akibat hubungan seksual (Sexually Transmitted Diseases/STD). Dampak negatif fenomena LGBT tidak hanya ditinjau dari sisi kesehatan namun juga mengikis dan menggugat keharmonisan hidup bermasyarakat. Dari sudut agama dan sosiologi, LGBT akan menyebabkan peningkatan gejala penyimpangan sosial dan kemaksiatan hingga tidak dapat dikendalikan. Dilihat dari sisi psikologi, dapat mempengaruhi kejiwaan dan memberi efek yang sangat kuat pada syaraf. Pelaku LGBT setiap tahun cenderung meningkat bukan hanya di kota besar saja tetapi juga merambah ke pelosok desa dengan kejadian fenomena gunung es termasuk di Kota Pekanbaru. 
Laporan Kementerian Kesehatan yang dikutip dari Komisi Penanggulangan AIDS Nasional pada tahun 2012 mengungkapkan bahwa terdapat 1.095.970 Lelaki berhubungan Seks dengan Lelaki (LSL) alias gay yang tersebar di semua daerah, dan 5% (66.180) diantaranya mengidap HIV (Kemenkes, 2014). 

Peningkatan jumlah komunitas LGBT bagaikan fenomena gunung es, bukan hanya terjadi di kota–kota besar di Indonesia tetapi menyeluruh di berbagai wilayah. . Cukup sulit untuk mengetahui secara pasti jumlah mereka yang tergabung dalam komunitas LGBT sehingga diperlukan upaya pendekatan yang cukup lama dan intensive agar pelaku mau terbuka untuk menyampaikan bahwa dirinya bagian dari LGBT. Dengan demikian, dirasa perlu dilakukan upaya pendekatan kepada pelaku LGBT agar dapat diketahuinya fenomena perilaku penyimpangan seksual , dengan harapan agar perilaku LGBT dapat dicegah dan yang telah terjadi tidak meluas ke yang lain. 
 Kesimpulannya adalah terungkap bahwa masih kurangnya pengetahuan mereka terutama tentang dampak dari perilaku menyimpangan seksual oleh LGBT; Mereka menginginkan keberadaan mereka dihargai; Motivasi mereka menjadi LGBT adalah mencari sensasi kasih sayang yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya; Mereka beranggapan bahwa inilah jalan hidup mereka yang telah diatur oleh Tuhan Yang Maha Esa dan tidak berdosa jika perilaku LGBT ini terus dijalani karena mereka beranggapan bahwa perilaku ini tidak akan bisa berubah menjadi normal; Media massa, Tempat hiburan malam, Peran orang tua, peran teman sebaya dan lingkungan serta peran guru dalam mendidik siswa  sangat berpengaruh terhadap perubahan perilaku mereka .
SARAN adalah Perlu dilakukan upaya peningkatan promosi kesehatan tentang perilaku penyimpangan seksual diberbagai tempat yang terencana dan berkesinambungan dengan berbagai pihak yang berkompeten, perlu dilakukan upaya peningkatan peran orang tua dan pendalaman ilmu agama terhadap anak, perlu peningkatan peran guru dan diberikannya sanksi tegas bagi para pelaku penyimpangan seksual agar mereka mengetahui bahwa apa yang mereka lakukan selama ini bukan saja merupakan pelanggaran kaedah agama ataupun pelanggaran norma susila tetapi juga merupakan suatu pelanggaran hukum, perlu ditingkatkannya kesadaran dan tanggung jawab aparat hukum serta perlu dilakukannya kerjasama lintas program ataupun sektor untuk mewujudkan masyarakat bebas LGBT. 





DAFTAR PUSTAKA 

Kurdi F.( 2017 ). Penelitian : Hambatan Pencegahan Penularan Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) / Acquired Immune Deficiency Syndrome ( AIDS ) Oleh Pekerja Seks Komersial ( PSK ) Di Lokalisasi.
 http : // journal.um- surabaya.ac.id./index.php/ JKM /article/ view/1092  
 
Andriyanto. D (2012). Penanganan Penyimpangan Perilaku Seksual Pada Remaja Tunalaras Yang Berperilaku Agresif Di Lingkungan Asrama Slb E Prayuwana Yogyakarta http://eprints.uny.ac.id/7679/05103241021.pdf diakses 30 Agustus 2017
Asni. M (2013). Faktor Yang Berhubungan Dengan Penyimpangan Perilaku Seksual Pada Remaja di SMA Kartika Wirabuana XX-1 Makassar. Jurnal Kesehatan Indonesia Vol. 4 No. 1 September 2013. 87-104. Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, Makassar. 
Handoyo, I. (2010). Perilaku Menyimpang Perlukah Mengenalnya? Bandung : PT. Pakar Raya
Hartanto. R (2010). Upaya Mencegah Hal Buruk Dari Kehidupan Anak. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hawari. D. (2012). Al Qur’an: Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa. Yogyakarta: Dana Bhakti 
Primayasa. Hidayati. PE (2012). Gambaran Pengetahuan dan Upaya Pencegahan Terhadap Penyimpangan Perilaku Seksual Pada Remaja di SMK Negeri 2 Sragen. Jurnal Kesehatan Indonesia  Vol. 9. No. 1 Februari 2012. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Aisyiyah Surakarta.
Hikmat, M. (2015). Awas Perilaku Menyimpang Waspadalah. Bandung : PT. Gafitri Bandung






Komentar